RTH, Karbon, dan Suhu Udara: Mengapa Kota Semakin Panas dan Bagaimana Mengukurnya?
RTH, Karbon, dan Suhu Udara: Mengapa Kota Semakin Panas dan Bagaimana Mengukurnya?
Kota yang semakin panas tidak hanya dipengaruhi perubahan iklim global, tetapi juga oleh berkurangnya vegetasi, meluasnya beton dan aspal, meningkatnya emisi, serta buruknya pengelolaan ruang dan air.
Kota yang semakin panas sering kali dipahami hanya sebagai akibat perubahan iklim global. Padahal, peningkatan suhu di kawasan perkotaan juga sangat dipengaruhi oleh cara kota dibangun dan dikelola. Berkurangnya ruang terbuka hijau, meluasnya permukaan beton dan aspal, meningkatnya jumlah kendaraan, kepadatan bangunan, penggunaan pendingin udara, serta berkurangnya permukaan tanah yang mampu menyimpan air merupakan penyebab utama terbentuknya panas perkotaan.
Ruang terbuka hijau atau RTH memiliki posisi penting dalam persoalan ini. Vegetasi tidak hanya menyerap karbon dioksida, tetapi juga memberikan keteduhan, mempertahankan kelembapan, mengurangi radiasi matahari yang mencapai permukaan tanah, dan mendinginkan udara melalui proses evapotranspirasi.
Hal yang harus diluruskan: jumlah karbon tidak dapat langsung diubah menjadi suhu udara dengan satu rumus. Suhu kota merupakan hasil interaksi tutupan lahan, vegetasi, bahan bangunan, air, emisi, kelembapan, angin, bentuk kota, dan kondisi atmosfer.
1. Meluruskan Hubungan antara Karbon dan Suhu Udara
Istilah “karbon yang diproduksi menghasilkan suhu udara” perlu diperjelas. Karbon tidak dapat langsung dikonversi menjadi suhu udara menggunakan satu rumus sederhana.
Pada skala lokal, permukaan beton, aspal, kendaraan, bangunan, pendingin udara, dan rendahnya vegetasi menyebabkan panas diserap, disimpan, dan dilepaskan kembali. Proses tersebut meningkatkan suhu permukaan serta suhu udara di kawasan perkotaan.
Dengan demikian, perlu dibedakan antara pemanasan global yang dipengaruhi akumulasi gas rumah kaca dan pulau panas perkotaan yang dipengaruhi langsung oleh struktur ruang, material bangunan, aktivitas manusia, kelembapan, dan sirkulasi udara.
2. Mengapa Suatu Kota Menjadi Panas?
2.1 Berkurangnya vegetasi dan tutupan tajuk
Ketika pohon ditebang dan tanah terbuka berubah menjadi permukiman, pertokoan, jalan, atau kawasan industri, kota kehilangan pelindung alami dari radiasi matahari. Hilangnya vegetasi juga mengurangi evapotranspirasi sehingga energi yang sebelumnya digunakan untuk menguapkan air berubah menjadi panas.
2.2 Meluasnya permukaan kedap air
Aspal, beton, atap seng, dan paving menyerap energi matahari pada siang hari dan melepaskannya kembali pada sore hingga malam hari. Inilah salah satu alasan kawasan perkotaan tetap terasa panas setelah matahari terbenam.
2.3 Kepadatan dan bentuk bangunan
Bangunan tinggi dan rapat membentuk ngarai perkotaan. Radiasi terperangkap di antara dinding bangunan, sementara pergerakan udara dan pelepasan panas ke atmosfer menjadi lebih lambat.
2.4 Panas kendaraan, industri, dan bangunan
Kendaraan bermotor, mesin industri, pembangkit listrik, kegiatan komersial, dan pendingin udara menghasilkan panas antropogenik yang dilepaskan langsung ke lingkungan.
2.5 Berkurangnya tanah yang menyerap air
Permukaan kedap air mempercepat limpasan. Air hujan segera dialirkan ke drainase dan tidak tersimpan di dalam tanah. Akibatnya, kota kehilangan cadangan kelembapan yang mendukung pendinginan alami.
2.6 Hilangnya badan air dan ruang biru
Sungai, kolam, rawa, dan danau kota membantu mengatur iklim mikro. Penutupan badan air dan perubahan lahan basah menjadi kawasan terbangun mengurangi kemampuan kota menyimpan air serta menyeimbangkan suhu.
2.7 Warna dan daya pantul permukaan
Permukaan berwarna gelap umumnya menyerap lebih banyak radiasi. Jalan aspal, atap gelap, dan dinding tertentu dapat meningkatkan penyimpanan panas. Atap sejuk, perkerasan reflektif, atap hijau, dan peneduhan dapat mengurangi beban panas tersebut.
2.8 Perubahan iklim global
Perubahan iklim meningkatkan suhu dasar yang kemudian diperkuat oleh karakteristik lokal kota. Kota menghadapi dua tekanan sekaligus: peningkatan suhu global dan panas akibat perubahan penggunaan lahan.
3. Variabel yang Perlu Dihitung
Untuk menjelaskan hubungan RTH, karbon, dan suhu, terdapat empat kelompok variabel utama:
4. Menghitung Luas dan Kualitas RTH
4.1 Persentase RTH
Apabila suatu kota memiliki luas 10.000 hektare dan RTH 2.500 hektare, persentasenya adalah 25%. Angka tersebut menunjukkan bahwa secara kuantitatif RTH masih berada di bawah acuan 30%.
4.2 Persentase tutupan tajuk
Tutupan tajuk lebih menggambarkan kemampuan peneduhan dibandingkan luas taman administratif. Sebuah taman seluas 10 hektare belum tentu memiliki tajuk 10 hektare karena sebagian lahannya dapat berupa jalan, bangunan, plaza, atau lapangan terbuka.
4.3 Indeks kualitas RTH
- persentase tutupan tajuk dan kerapatan pohon;
- ukuran, umur, kesehatan, dan keragaman jenis pohon;
- luas permukaan yang tidak diperkeras;
- kelembapan tanah dan kemampuan resapan;
- keterhubungan antar-RTH;
- jarak RTH dari permukiman;
- kemampuan menyerap karbon dan menurunkan suhu;
- distribusi RTH berdasarkan jumlah penduduk.
5. Menghitung Karbon yang Disimpan RTH
Data minimum inventarisasi pohon mencakup:
- jenis dan jumlah pohon;
- diameter batang setinggi dada atau DBH;
- tinggi pohon dan diameter tajuk;
- kondisi kesehatan pohon;
- berat jenis kayu apabila tersedia;
- koordinat pohon atau plot pengamatan.
5.1 Menghitung biomassa
Persamaan alometrik harus disesuaikan dengan jenis vegetasi dan kondisi wilayah. Persamaan khusus jenis atau hutan tropis lebih baik daripada menggunakan satu rumus untuk seluruh pohon tanpa validasi.
5.2 Mengubah biomassa menjadi karbon
Apabila biomassa kering suatu RTH mencapai 1.000 ton dan fraksi karbon yang digunakan 0,47, maka simpanan karbonnya adalah 470 ton C.
5.3 Mengubah karbon menjadi setara CO₂
Simpanan 470 ton C setara dengan sekitar 1.723,33 ton CO₂. Nilai tersebut merupakan stok yang tersimpan di dalam biomassa, bukan penyerapan tahunan.
5.4 Menghitung penyerapan tahunan
Perbedaan stok karbon dan penyerapan tahunan harus dijelaskan dengan tegas. Stok karbon adalah akumulasi, sedangkan penyerapan tahunan merupakan pertambahan karbon selama satu periode.
6. Menghitung Karbon yang Dihasilkan Kota
6.1 Transportasi
Data yang dibutuhkan meliputi konsumsi bahan bakar, jumlah kendaraan, jarak tempuh, jenis kendaraan, dan tingkat kemacetan.
6.2 Bangunan dan energi
Emisi berasal dari konsumsi listrik rumah tangga, perkantoran, pusat perdagangan, hotel, rumah sakit, kampus, industri, serta penggunaan generator.
6.3 Pengelolaan sampah
Sampah menghasilkan emisi dari pembusukan bahan organik, metana di tempat pemrosesan akhir, pembakaran, pengangkutan, dan pengolahan air limbah.
6.4 Industri dan kegiatan komersial
Emisi dapat berasal dari pembakaran bahan bakar, proses produksi, pendinginan, bahan kimia, dan pengangkutan bahan baku.
6.5 Perubahan penggunaan lahan
Penebangan pohon menimbulkan dua kerugian: melepaskan sebagian karbon yang telah tersimpan dan menghilangkan kemampuan kawasan tersebut menyerap karbon pada masa depan.
7. Menghitung Neraca Karbon Kota
Misalnya, emisi kota mencapai 1.000.000 ton CO₂e per tahun dan penyerapan RTH 25.000 ton CO₂ per tahun. Neraca karbon bersihnya menjadi 975.000 ton CO₂e per tahun.
RTH dalam contoh tersebut hanya mengimbangi 2,5% emisi tahunan. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan RTH harus berjalan bersama pengurangan emisi transportasi, energi, industri, bangunan, dan sampah.
Pohon bukan alat pembenaran polusi. Perlindungan RTH harus disertai kebijakan menurunkan emisi langsung pada sumbernya.
8. Menghitung Suhu Permukaan
Suhu permukaan dapat dipetakan menggunakan citra Landsat Collection 2 Level-2 Surface Temperature.
Perbandingan citra harus menggunakan musim, waktu perekaman, batas wilayah, dan kondisi awan yang relatif sebanding. Membandingkan citra musim hujan dengan musim kemarau tanpa koreksi dapat menghasilkan kesimpulan yang menyesatkan.
9. Menghitung Indeks Vegetasi
Nilai NDVI tinggi umumnya menunjukkan vegetasi lebih rapat dan sehat. Namun, NDVI tidak secara langsung menunjukkan batas RTH legal atau administratif. NDVI menggambarkan kondisi kehijauan permukaan pada saat citra direkam.
Analisis dapat dilengkapi dengan NDBI, indeks kelembapan, persentase permukaan kedap air, tutupan tajuk, serta jarak dari badan air.
10. Mengukur Suhu Udara
Suhu permukaan dari satelit berbeda dari suhu udara yang dirasakan manusia. Aspal dapat memiliki suhu permukaan sangat tinggi, sedangkan udara dua meter di atasnya dapat lebih rendah.
Suhu udara dapat diukur menggunakan:
- automatic weather station;
- data logger suhu dan kelembapan;
- termohigrometer terkalibrasi;
- stasiun BMKG;
- sensor mikroklimat pada beberapa penggunaan lahan.
Sensor sebaiknya ditempatkan sekitar 1,5–2 meter dari permukaan, terlindung dari radiasi langsung, tidak terlalu dekat dengan dinding atau mesin, dan mewakili kawasan RTH, permukiman, jalan, perdagangan, serta wilayah referensi.
Pengukuran perlu mewakili pagi, siang, sore, malam, hari kerja, akhir pekan, musim hujan, dan musim kemarau.
11. Menghitung Intensitas Pulau Panas Perkotaan
Apabila suhu rata-rata kawasan terbangun 34,2°C dan kawasan referensi 30,8°C, intensitas UHI adalah 3,4°C.
Kawasan referensi dapat berupa pinggiran kota dengan vegetasi dominan, kawasan perdesaan, hutan, atau lahan nonterbangun. Perbedaan elevasi dan topografi harus dikendalikan agar hasil tidak bias.
12. Menghubungkan RTH, Karbon, dan Suhu
Variabel terikat dapat berupa suhu udara, suhu maksimum, suhu malam, suhu permukaan, atau intensitas UHI. Variabel bebasnya dapat meliputi luas RTH, tutupan tajuk, NDVI, NDBI, karbon, emisi, kepadatan penduduk, bangunan, permukaan kedap air, badan air, elevasi, kelembapan, dan angin.
Karbon tidak boleh dijadikan satu-satunya variabel untuk memprediksi suhu. Pendinginan lokal lebih langsung dipengaruhi oleh tajuk, bayangan, evapotranspirasi, kelembapan, dan lokasi vegetasi.
13. Contoh Perhitungan Sederhana
| Komponen | Nilai simulasi |
|---|---|
| Luas kota | 20.000 hektare |
| Luas RTH | 4.000 hektare |
| Tutupan tajuk | 2.400 hektare |
| Biomassa vegetasi | 500.000 ton |
| Pertambahan biomassa tahunan | 10.000 ton |
| Emisi kota | 2.000.000 ton CO₂e/tahun |
| Suhu kawasan padat | 34°C |
| Suhu kawasan hijau referensi | 31°C |
Interpretasinya, kota memiliki stok karbon vegetasi yang besar secara kumulatif, tetapi tambahan penyerapan tahunannya masih sangat kecil dibandingkan total emisi. Kota harus meningkatkan kualitas RTH sekaligus menekan sumber emisi.
14. Tahapan Penelitian yang Disarankan
- Menentukan batas penelitian , seperti kota, kecamatan, kelurahan, atau grid.
- Memetakan penggunaan lahan , termasuk vegetasi, permukiman, industri, jalan, dan badan air.
- Menghitung RTH dan tutupan tajuk .
- Melakukan inventarisasi pohon dan menghitung biomassa serta karbon.
- Menyusun inventarisasi emisi transportasi, energi, sampah, industri, dan penggunaan lahan.
- Memetakan suhu permukaan menggunakan citra Landsat.
- Mengukur suhu udara lapangan pada beberapa tutupan lahan.
- Melakukan analisis spasial dengan satuan grid yang sama.
- Melakukan analisis statistik , seperti korelasi, regresi, GWR, atau random forest.
- Menyusun skenario kebijakan penambahan RTH, restorasi sungai, koridor hijau, dan pengurangan emisi.
15. RTH Bukan Sekadar Persentase
Kota sering merasa telah menyelesaikan persoalan lingkungan ketika angka luas RTH tercapai. Padahal, angka tersebut belum tentu menggambarkan kemampuan ekologis yang sebenarnya.
RTH yang luas tetapi tanpa tajuk pohon belum tentu memberikan pendinginan optimal. RTH yang jauh dari permukiman belum tentu melindungi penduduk paling rentan. Pohon yang baru ditanam juga belum mampu menggantikan fungsi pohon dewasa secara langsung.
Ukuran keberhasilan RTH: karbon yang disimpan, karbon yang diserap, luas tajuk, penurunan suhu, air hujan yang diresapkan, jumlah penduduk yang menerima manfaat, keterhubungan ekologis, dan keberlanjutan pemeliharaan.
16. Arah Kebijakan Kota yang Lebih Sejuk
Pembangunan kota sejuk tidak cukup dilakukan melalui penanaman pohon seremonial. Kota membutuhkan jaringan ruang hijau dan ruang biru yang direncanakan sebagai satu sistem.
Kebijakan prioritas diarahkan pada kawasan yang memiliki kombinasi:
- suhu tinggi;
- tutupan tajuk rendah;
- kepadatan penduduk tinggi;
- emisi transportasi tinggi;
- kelompok penduduk rentan;
- permukaan kedap air luas;
- akses terhadap RTH rendah.
Pohon dewasa perlu dilindungi karena telah memiliki stok karbon, tajuk, sistem akar, dan kemampuan peneduhan yang tidak dapat digantikan secara langsung oleh bibit baru.
Penutup
Kota menjadi panas bukan semata-mata karena matahari semakin terik. Panas perkotaan juga merupakan hasil keputusan tata ruang: pohon yang ditebang, tanah yang ditutup beton, sungai yang dipersempit, kendaraan yang terus bertambah, bangunan yang menghalangi angin, dan energi yang digunakan tanpa efisiensi.
Hubungan RTH, karbon, dan suhu harus dipahami secara tepat. RTH menyimpan serta menyerap karbon, sedangkan pendinginan lokal bekerja terutama melalui keteduhan, evapotranspirasi, kelembapan, dan perubahan keseimbangan energi permukaan.
Kota yang sejuk bukan hanya kota yang memiliki banyak taman, tetapi kota yang mampu menempatkan vegetasi pada lokasi yang tepat, mempertahankan pohon dewasa, mengurangi emisi, menjaga air di dalam lanskap, serta memastikan seluruh penduduk memperoleh manfaat ekologis dari ruang hijau.
Rujukan Pendukung
- US Environmental Protection Agency. Benefits of Trees and Vegetation.
- IPCC. Climate Change 2022: Mitigation of Climate Change—Urban Systems and Other Settlements.
- USGS. Landsat Collection 2 Level-2 Science Products Scale Factors.
- Greenhouse Gas Protocol. Calculation of Greenhouse Gas Emissions.
- Peraturan Menteri ATR/Kepala BPN Nomor 14 Tahun 2022 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau.
Komentar
Posting Komentar